Politik – Tan Malaka (1945)


Ditulis oleh Tan Malaka di Surabaya, 24 November 1945

Sumber: Tulisan ini diambil dari buku Merdeka 100%, cetakan pertama, Oktober 2005, dengan ijin dari penerbit Marjin Kiri. Buku ini mengandung tiga tulisan Tan Malaka: Politik, Rencana Ekonomi Berjuang, dan Muslihat.

Transcribed to HTML by Ted Sprague


PENGANTAR

DUA LUSIN TAHUN lamanya saya menunggu-nunggu kejadian yang berlaku dengan pesat dahsyat di Indonesia sekarang ini. Berbahagialah rasanya hidup saya karena bisa menyaksikan perjuangan di Surabaya selama satu minggu lamanya (17 – 24 November 1945).

Sikap dan semangat proletar, tani, dan pemuda Indonesia memuncak, sesuai semua karya dan pengharapan saya selama dalam perantauan. Di Shanghai atau Berlin, di Mesir atau Moskow, saya tak menjumpai sikap dan semangat yang lebih tepat-tangkas-tegap.

Tetapi rasanya masih ada kekurangan baik ditilik dari penjuru ideologi ataupun organisasi.

Pengalaman seminggu lamanya di masa Surabaya dihujani dengan pelor dan bom, ditambah pula dengan permohonan dari pihak pemuda yang sedang berjuang dengan hati laksana baja, saya dalam perjalanan ini terpaksa menulis beberapa brosur. Continue reading Politik – Tan Malaka (1945)

SEJARAH BERDIRI DAN PERKEMBANGAN ASY’ARIYAH

 

1. Pendiri

Asy`ariyah adalah sebuah paham akidah yang dinisbatkan kepada Abul Hasan Al-Asy`ariy. Nama lengkapnya ialah Abul Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Al-Asy’ari, seorang sahabat Rasulullah saw. Kelompok Asy’ariyah menisbahkan pada namanya sehingga dengan demikian ia menjadi pendiri madzhab Asy’ariyah. Continue reading SEJARAH BERDIRI DAN PERKEMBANGAN ASY’ARIYAH

MANTIQ

oleh Ust. Husein Al-Kaff

Definisi dan Urgensi Mantiq

Mantiq adalah alat atau dasar yang penggunaannya akan menjaga kesalahan dalam berpikir.

Lebih jelasnya, Mantiq adalah sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berpikir, sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara berpikir salah. Manusia sebagai makhluk yang berpikir tidak akan lepas dari berpikir. Namun, saat berpikir, manusia seringkali dipengaruhi oleh berbagai tendensi, emosi, subyektifitas dan lainnya sehingga ia tidak dapat berpikir jernih, logis dan obyektif. Mantiq merupakan upaya agar seseorang dapat berpikir dengan cara yang benar, tidak keliru.
Continue reading MANTIQ

Freudian psychoanalysis

“I am actually not at all a man of science, not an observer, not an experimenter, not a thinker. I am by temperament nothing but a conquistador–an adventurer, if you want it translated–with all the curiosity, daring, and tenacity characteristic of a man of this sort” (Sigmund Freud, letter to Wilhelm Fliess, Feb. 1, 1900).

“By the 1950s and ’60s, the master’s warning had been drowned in a tumult of excited voices. Psychoanalysts and psychiatrists could cure even schizophrenia, the most feared mental disease of all, they claimed, and they could do it simply by talking with their patients” (Dolnick, 12).

Continue reading Freudian psychoanalysis

ISLAM versus MARKSISME

 

Gerakan Marksisme di Mesir memiliki ciri khas tersendiri dibanding dengan gerakan komunis lainnya di dunia. Sebagai penganut paham sosialis, Marksisme Mesir tidak melibatkan diri pada pembahasan akidah dan keyakinan mendasar (teologi) Islam. Hal itu dikarenakan pengaruh agama yang masih kuat. Mereka tidak anti agama, tetapi lebih menonjolkan dimensi sosial politik ketimbang dimensi ateistik. Meskipun sulit untuk menghindari pembacaan doktrin anti agama dalam karya tokoh-tokoh marksis semisal Marx (1818-1883), Angels (1820-1895), Lenin (1820-1895), Stalin (1879-1953), para kader marksis Mesir masih berani untuk tidak mengamini tokoh-tokoh di atas terutama dalam masalah ketuhanan. Bahkan seperti mencari pembenaran, kader Marksis Mesir mengungkapkan bahwa faktor yang mendorong sikap anti agama dan tuhan pada masyarakat Barat, adalah ajaran Kristen yang memicu dan melanggengkan keberadaan kaum Kapitalis dan Borjuis. Kondisi seperti ini tidak ada dalam ajaran Islam yang mengajarkan persamaan dan keadilan.

Continue reading ISLAM versus MARKSISME

The Will to Power

Suppose nothing else were “given” as real except our world of desires and passions, and we could not get down, or up, to any other “reality” besides the reality of our drives–for thinking is merely a relation of these drives to each other: is it not permitted to make the experiment and to ask the question whether this “given” would not be sufficient for also understanding on the basis of this kind of thing the so-called mechanistic (or “material”) world?…

In the end not only is it permitted to make this experiment; the conscience of method demands it. Not to assume several kinds of causality until the experiment of making do with a single one has been pushed to its utmost limit (to the point of nonsense, if I may say so)… The question is in the end whether we really recognize the will as efficient,  whether we believe in the causality of the will: if we do–and at bottom our faith in this is nothing less than our faith in causality itself–then we have to make the experiment of positing  causality of the will hypothetically as the only one. “Will,” of course, can affect only “will”–and not “matter” (not “nerves,” for example). In short, one has to risk the hypothesis whether will does not affect will wherever “effects” are recognized–and whether all mechanical occurrences are not, insofar as a force is active in them, will force, effects of will.
Continue reading The Will to Power

From Diversity to Pluralism

religion1

by Diana L. Eck

All of America’s diversity, old and new, does not add up to pluralism. “Pluralism” and “diversity” are sometimes used as if they were synonyms, but diversity is just plurality, plain and simple — splendid, colorful, perhaps threatening. Pluralism is the engagement that creates a common society from all that plurality. On the same street in Silver Spring, Maryland the Vietnamese Catholic church, the Cambodian Buddhist temple, the Ukranian Orthodox church, the Muslim Community Center, the Disciples of Christ church and the Mangal Mandir Hindu temple are all located in the same neighborhood. This is certainly diversity, but without any engagement or relationship with one another it may not be an instance of pluralism.

Continue reading From Diversity to Pluralism