Di kala kegundahan ku semakin meradang, aku tak tahu harus menjadikan hidup ini apa. Usaha telah mendekati titik kulminasi. Entah jadi apa keringat yang selama ini aku peras hingga tetes terakhir. Dan tampaknya sudah hampir kering. Aku berharap akan ada yang teduhkan jalan ku, namun sampai aku melemah, mentari masih terlalu bebas menghujam tubuh ku.
Sepertinya terlalu jauh aku memusatkan pandangan ku. Pasir dan kerikil mencengkram kaki ku, seakan melarang ku untuk melanjutkan mimpi. Kapan aku bisa menghirup udara pagi, sementara ku rasakan selalu mentari di atas kepala ku. Sesekali aku menghela nafasku yang semakin pendek, namun sesekali pula aku membuang pandangan ku kearah yang tak pernah aku lihat selama ini.
Aku telah berusaha memberikan yang terbaik kepada mereka yang mengadahkan tangannya untuk sesekali meludahkan doa yang entah mereka menikmati doa itu atau tidak. yang ini adalah jalan yang gelap, yang ini adalah jalan yang lebih gelap, dan satu lagi jalan yang paling gelap diantara jalan-jallan yang lainnya.
Aku tersimpuh di hadapan kaktus-kaktus berduri, hingga aku tersadar aku telah menjadi segumpal darah kembali. Aku tak tahu rahim siapa tempat aku bersemayam kini. Yang aku tahu kini aku menjadi hampa, menjadi bukan siapa-siapa, aku hanya debu yang akan terhempas dengan sekali tiupan angin saja.
aku kembali hina…….!

wow